Berita

Workshop Pengembangan Bahan Ajar Integrasi Literasi Dasar Pada Matakuliah Yang Relevan di LPTK

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter

Menyikapi persoalan rendahnya kemampuan literasi dasar pada anak di Nusa Tenggara Barat, yang berada pada urutan terbawah dibandingkan dengan Provinsi lain di Indonesia, menjadi persoalan yang serius untuk disikapi oleh para pemangku kepentingan dan stakeholders terkait di bidang pendidikan. Di Tingkat Internasional Indonesia juga menempati posisi yang rendah dalam hal kemampuan literasi dasar.
Merespon kondisi kemampuan literasi dasar di Nusa Tenggara Barat yang rendah, melalui kemitraan INOVASI NTB dengan beberapa Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) melakukan berbagai upaya program afirmasi untuk perbaikan dan peningkatan kemampuan literasi dasar, dari mulai menggelar pelatihan, workshop, pendampingan guru sampai dengan menerjunkan relawan Literasi dari LPTK yang ada di NTB.
Salah satu kegiatan untuk merespon persoalan rendahnya literasi dasar ini melalui kemitraan INOVASI NTB dengan 3 (Tiga) LPTK, Yakni UIN Mataram, Universitas Hamzanwadi dan UNDIKMA menggelar Workshop Pengembangan Bahan Ajar Integrasi Literasi Dasar pada Matakuliah yang Relevan di LPTK, bertempat di Hotel Aston, 26 Juni 2021.
Kegiatan pembukaan workshop pengembangan bahan ajar ini dihadiri oleh unsur pimpinan Fakultas, Program Studi, Tim Dosen Pengembang Bahan Ajar dan pihak INOVASI NTB. Kegiatan workshop ini dibuka oleh Dekan FIP Universitas Hamzanwadi, dalam sambutannya Dr. Abdullah Muzakar, M.Si, menegaskan bahwa rendahnya kemampuan literasi dasar anak-anak di NTB, menempatkan LPTK pada posisi strategis dan menentukan, sekaligus amanah tanggungjawab yang besar, karena kalau kita lihat posisioning LPTK, LPTK ada pada posisi hulu dalam menyiapkan tenaga pendidik atau guru, artinya kalau posisi LPTK lemah dalam mempersiapkan calon-calon guru, maka ini salah satu faktor dan variabel yang akan berpengaruh langsung pada persolan kemampuan literasi dasar.
Saat ini Tantangan LPTK menjadi tidak mudah dan ringan, dalam meningkatkan kemampuan literasi peserta didik, bagaimana luberan teknologi digital dan gudget pada dunia anak, mejadikan pragmatisme dan instanisasi pada aspek kognitif dan psikomorik anak menjadi bagian yang tak terpisah dari penyebab rendahnya kemampuan literasi anak, ditambah 2 (dua) tahun ini pase pandemi Covid 19 belum menunjukkan penurunan, telah menjadikan tantangan bagi upaya penguatan dan peningkatan kemampuan literasi anak, tandas Dekan FIP Universitas Hamzanwadi.
Workshop pengembangan bahan ajar ini nantinya akan menghasilkan produk berupa modul dan buku ajar pada matakuliah yang relevan dengan pembelajaran literasi di Program Studi PGSD dan PGMI, dalam sambutannya Koorprodi PGSD FIP Universitas Hamzanwadi Muhammad Sururuddin, M.Pd, menyampaikan bahwa kegiatan workshop yang difasilitasi INOVASI NTB dengan melibatkan 3 LPTK ini menjadi kegiatan baik dan positif, berhimpunnya para pakar dari LPTK ini akan menghasilkan bahan ajar literasi dasar yang kridibel dan aplikatif dalam menunjang pembelajaran di LPTK. Kita berharap bahwa dengan bahan ajar yang baik dan teruji karena disusun oleh para pakar ini dapat merubah pola pembelajaran pada matakuliah-matakuliah yang relevan dengan literasi dasar, tidak lagi menjadi deret hitung dalam struktur matakuliah, dan formalitas pembelajaran, akan tetapi dengan keberadaan modul bahan ajar ini dapat dipastikan Capai Pembelajaran Lulusan (CPL) dan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) dapat tercapai dan direalisasikan sesuai dengan perencanaan dan target.
Kegiatan Workshop pengembangan bahan ajar ini juga dirangkaikan dengan penandatangan MoU antara ketiga LPTK, yakni UNDIKMA, UIN Mataram dan Universitas Hamzanwadi, penandatangan MoU oleh ketiga LPTK ini dimaksudkan sebagai upaya berkelanjutan dalam melakukan afirmasi terhadap persoalan literasi dasar di NTB, sinergisitas dan kolaborasi antar LPTK akan sangat menentukan percepatan dalam penanganan rendahnya literasi dasar, tentu ikhtiar ini akan berhasil jika didukung oleh segenap pemangku kepentingan utama, dalam hal ini Pemerintah Provinsi dan Kabupaten yang ada di wilayah NTB, serta pihak-pihak yang concern terhadap upaya peningkatan literasi dasar.

Berita lainnya